Sunday, January 5, 2014

5 Jenis Karangan

Paragraf atau alinea merupakan sekumpulan kalimat yang saling berkaitan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Paragraf disebut juga karangan singkat. Dalam 1 paragraf terdapat beberapa bentuk kalimat, kalimat-kalimat itu ialah kalimat pengenal, kalimat utama (kalimat topik), kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Kalimat-kalimat ini terangkai menjadi satu kesatuan yang dapat membentuk suatu gagasan.
Sedangkan pengertian karangan yaitu suatu proses menyusun, mencatat, dan mengkomunikasikan makna dalam tataran ganda, bersifat interaktif dan diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu dengan menggunakan suatu sistem tanda konvensional yang dapat dilihat. Karangan terdiri dari paragraf-paragraf yang mencerminkan kesatuan makna yang utuh. Menurut Keraf (1994: 2) karangan adalah bahasa tulis yang merupakan rangkaian kata demi kata sehingga menjadi sebuah kalimat, paragraf, dan akhirnya menjadi sebuah wacana yang dibaca dan dipahami.
Ada 5 jenis karangan yaitu :

1. Karangan Narasi
Narasi adalah uraian yang menceritakan sesuatu atau serangkaian kejadian, tindakan, keadaan secara berurutan dari permulaan sampai akhir sehingga terlihat rangkaian hubungan satu sama lain. Bahasanya berupa paparan yang gayanya bersifat naratif. Paragraf narasi terdiri atas narasi kejadian dan narasi runtut cerita.

Ciri-Ciri Karangan Narasi :
  • Menonjolkan unsur perbuatan atau tindakan. 
  • Dirangkai dalam urutan waktu.
  • Berusaha menjawab pertanyaan "apa yang terjadi?"
  • Ada konfiks. Narasi dibangun oleh sebuah alur cerita. Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada konfiks. Selain alur cerita, konfiks dan susunan kronologis, ciri-ciri narasi lebih lengkap lagi diungkapkan oleh Atar Semi (2003: 31) sebagai berikut: 
  • Berupa cerita tentang peristiwa atau pengaalaman penulis. 
  • Kejadian atau peristiwa yang disampaikan berupa peristiwa yang benar-benar terjadi, dapat berupa semata-mata imajinasi atau gabungan keduanya. 
  • Berdasarkan konfiks, karena tanpa konfiks biasanya narasi tidak menarik. 
  • Memiliki nilai estetika. 
  • Menekankan susunan secara kronologis.

2. Karangan Deskripsi
Karangan Deskripsi adalah paragraf yang menggambarkan suatu objek dengan kata-kata yang mampu merangsang indra pembaca.  Karangan deskripsi merupakan jenis karangan yang non ilmiah/ fiksi.

Ciri-Ciri Karangan Deskripsi :
1.    Menggambarkan atau melukiskan suatu benda, tempat, atau suasana tertentu.
2.    Penggambaran dilakukan dengan melibatkan panca indra (pendengaran, penglihatan, penciuman, pengecapan, dan perabaan).
3.    Bertujuan agar pembaca seolah-olah melihat atau merasakan sendiri objek yang dideskripsikan.
4.    Menjelaskan ciri-ciri objek seperti warna, ukuran, bentuk, dan keadaan suatu objek secara terperinci.

3. Karangan Argumentasi
            Karangan agumentasi ialah jenis paragraf yang mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta (benar-benar terjadi). Tujuannya adalah agar pembaca yakin bahwa ide, gagasan, atau pendapat tersebut adalah benar dan terbukti.
Ciri-Ciri Karangan Argumentasi :
1.      Menjelaskan suatu pendapat agar pembaca yakin.
2.      Memerlukan fakta untuk membuktikan pendapatnya biasanya beruapa gambar/grafik, dll.
3.      Menggali sumber ide dari pengamatan, pengalaman dan penelitian.
4.      Penutup berisi kesimpulan.

4. Karangan Eksposisi
             Karangan eksposisi adalah karangan yang bertujuan untuk memaparkan, menjelaskan, menyampaikan informasi, mengajarkan, dan menerangkan suatu topik kepada pembaca dengan tujuan untuk memberikan informasi sehingga memperluas pengetahuan pembaca. Untuk memahaminya pun pembaca perlu melakukan proses berpikir dan melibatkan pengetahuan.
              Ciri-Ciri Karangan Eksposisi :
1.    Memaparkan definisi dan memaparkan langkah-langkah, metode atau melaksanakan suatu tindakan.
2.    Gaya penulisannya bersifat imformatif.
3.    Menginformasikan/menceritakan sesuatu yang tidak bisa dicapai oleh alat indra.
4.    Paragraf eksposisi umumnya menjawab pertanyaan apa, siapa, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana.

5. Karangan Persuasi
       Karangan persuasi adalah suatu bentuk karangan yang bertujuan membujuk pembaca agar mau berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan penulisnya. Agar tujuannya dapat tercapai, penulis harus mampu mengemukakan pembuktian dengan data dan fakta.
Ciri-Ciri Karangan Persuasi, yaitu:
1.      Persuasi berasal dari pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.
2.      Harus menimbulkan kepercayaan para pembacanya.
3.      Persuasi harus dapat menciptakan kesepakatan atau penyesuaian melalui epercayaan antara penulis dengan pembaca.
4.      Persuasi sedapat mungkin menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan supaya kesepakatan pendapatnya tercapai.

5.      Persuasi memerlukan fakta dan data.

Saturday, January 4, 2014

You+Me= Together

Rasanya ngga menyangka karena sebentar lagi hubungan aku dan Adi akan menginjak usia 2 tahun. Sudah banyak suka dan duka yang kita lalui bersama. Aku masih ingat betul pertama kali kita bertemu, berkenalan, hingga kita resmi pacaran. Buatku, kenangan itu sangat indah dan ngga akan aku lupakan. Setiap aku mengingatnya aku pasti senyum-senyum sendiri. Ya memang seperti orang gila yang ngga ada angin ngga ada hujan ngga ada petir tiba-tiba senyum sendiri. Haha.. Tapi itulah cinta.
*di halte bus*
Hari ini aku harus mengikuti latihan dasar paduan suara di kampus Depok. Aku sangat bersemangat sekali. Tapi, temanku belum dating juga. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB dan acara dimulai pukul 08.00WIB.
“Aduh Mia kok belum datang juga sih apa aku telepon aja ya?”pikirku
Aku pun memutuskan untuk menelponnya.
“Mia, kamu dimana? Aku sudah di halte bus nih cepetan dateng ya aku takut terlambat!”pintaku
“Aku masih dijalan, sebentar lagi sampai kok tunggu ya.”jawabnya
Akhirnya Mia datang juga. Aku sangat lega. Lalu kami naik bus menuju Depok. Sesampainya disana acara belum dimulai. Aku dan Mia duduk-duduk terlebih dahulu di luar ruangan sambil berbincang-bincang. Beberapa menit kemudian acarapun dimulai.
“Selamat Datang di acara DIKSAR Paduan Suara Swaradarmagita.”sapa ketua panitia
“Mia, aku ngga sabar banget nih pengen cepet-cepet latihan.”kataku
“Haha aku juga.”kata Mia
“Tapi ngomong-ngomong ini yang ikut diksar dari kampus kalimalang kita berdua doang ya?”tanyaku
“Iya kayaknya say, abisnya pada males ke kampus Depok.”jawabnya
Lalu latihan pun dimulai. Karena masih dasar, kami baru berlatih tangga nadasambil diiringi dentuman piano. Disaat latihan saya dan teman saya berusaha fokus mengikuti nada demi nada.
“Say, ternyata bukan kita aja loh yang dari kalimalang”seru Mia
“Serius say? Tahu darimana?” tanyaku
“Tadi aku lihat status Facebook temanku dia anak Sistem Informasi”kata Mia
“Asik ada temennya lagi. Suruh gabung kesini aja”kataku dengan antusias
“Iya nanti pas istirahat makan siang kita ketemuan sama mereka sekalian aku kenalin ke kamu.”kata Mia
Akhirnya waktu istirahat makan siang pun tiba. Aku penasaran dengan teman-temannya Mia. Aku senang jika perwakilan dari kalimalang bukan kami saja. Tak lama kemudian ada 3 orang asing menghampiri kami. Aku menganggap mereka orang asing karena aku tidak mengenal mereka, tapi tentu saja tidak bagi Mia. Karena Mia sudah mengenal mereka sejak sebelum masuk kuliah.
“Aira, kenalkan ini teman-temanku mereka dari kampus kalimalang sama seperti kita.”kata Mia
“Halo aku Intan”sapanya
“Aira”jawabku
Aku menyalami satu persatu temannya Mia, mulai dari Intan,Budi, hingga yang terakhir.
“Adi”sapanya
“Aira”sapaku balik
Itulah awal perkenalanku dengan Adi. Biasa saja memang. Dia orangnya sangat pendiam. Sehingga lebih dominan aku yang berbicara kepadanya. Seperti bertanya kuliah juran apa, kelas berapa. Berbasa-basi selayaknya yang orang lain lakukan ketika baru saling mengenal. Aku memang seperti itu, berusaha bersikap ramah dan tidak sungkan untuk menyapa duluan meskipun baru kenal. Tapi sangat berbeda dengan Adi. 180 derajat bedanya. Ibarat 2 sisi telapak tangan. Haha.. Berlebihan memang ungkapanku ini, tapi ini kenyataannya. Adi orangnya sangat pendiam. Sedangkan aku aslinya cerewet. Setiap ditanya, Adi selalu menjawab singkat dan malu-malu.. Saat melihatnya pun aku merasa biasa saja. Tidak ada yang special. Adi juga pasti merasakan hal yang sama. Aku yakin itu.
“Aku heran ada orang yang bisa pendiem selama itu, sedangkan aku 1 menit tidak berbicara rasanya susah banget. Pasti ada saja yang aku omongin.”gumamku dalam hati
“Hmm menurutku Adi kayaknya orangnya baik, walaupun pendiem banget, ya lumayan juga.”gumamku lagi
Setelah selesai makan siang, kami semua melanjutkan latihan paduan suara. Tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Waktunya pulang tiba. Capek memang tapi sangat menyenangkan. Kali ini aku tidak berdua saja dengan Mia. Tapi pulang bareng dengan mereka juga. Yaitu, bareng Intan dan Adi. Selama diperjalanan, Intan tertidur. Sedangkan Mia sibuk dengan BB-nya. Bosan memang tidak ada yang bisa diajak ngobrol. Aku melihat Adi duduk didepanku. Aku berpikir untuk mengajaknya ngobrol. Walaupun tidak yakin, karena aku tahu Adi orangnya pendiam. Tapi aku mencoba ngobrol dengannya. Dan sudah dapat ditebak, jawabannya selalu singkat dengan ekspresi malu-malu. Agak kesal memang, tapi mau gimana lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menikmati kembali perjalanan dengan diam. Aku berpikir daripada bertanya dijawab singkat lebih baik diam. Tapi sikap pendiamnya itu membuat aku agak penasaran dengannya. Lalu kami sampai di terminal bus. Kami pun berpisah dengan mereka disana. Aku dan Mia menaikki bus jurusan yang berbeda dengan Intan serta Adi. Dan itu terakhir aku bertemu dengan Adi.
Hingga suatu ketika sekitar satu bulan setelah itu, aku bertemu Intan dan Adi lagi di kampus. Mereka tersenyum dan menyapaku. Aku pun tersenyum serta menyapa balik. Tidak lama memang, karena mereka harus segera masuk ke kelas. Mereka lalu pergi meninggalkanku. Namun masih dapat terlihat karena jaraknya masih dekat denganku. Disaat itu entah mengapa tiba-tiba perasaanku mengatakan sesuatu.
“Entah kenapa aku akan kenal Adi semakin dekat dan akan punya kisah dengannya.”gumamku
Aku sendiri kaget dan bingung mengapa tiba-tiba perasaanku mengatakan seperti itu. Aku juga bertanya-tanya pada diriku sendiri apa itu akan benar-benar terjadi atau aku hanya ngelantur. Entahlah. Biar waktu yang menjawab. Mereka terus menjauh. Menjauh. Hingga bayang-bayang mereka tidak terlihat lagi.
*Satu setengah bulan kemudian*
“Aduh bosen enaknya ngapan ya?” pikirku
“Hmm online Facebook aja deh.”kataku
Tak lama kemudian ada notif chat masuk di Facebookku. Awalnya aku tidak kenal itu siapa, tapi setelah melihat profile FB-nya, aku baru ingat. Itu Adi yang ketemu di paduan suara waktu itu.
“Loh tumben Adi ngechat.”pikirku
“Aira, kamu masih latihan padus?”tanyanya di chat
“Masih kok.”kataku
“Rajin amat aku mah udah ngga males soalnya jauh haha”ujarnya
“Woo Adi mah emang males haha”ledekku
Awalnya aku berpikir Adi hanya basa-basi atau modus. Haha.. Karena terlihat sekali dari chat-chatnya.Tapi tidak masalah karena aku merasa nyambung ngobrol dengannya di chat. Ternyata dia orangnya asik juga. Semenjak itu kami jadi sering chatting di Facebook dan semakin akrab. Hingga pada suatu hari ia meminta nomer handphoneku. Aku semakin yakin kalau dia menyukaiku. Tapi aku tidak ingin kepedean. Aku berusaha menghilangkan pikiran itu. Meskipun perasaanku mengatakan seperti itu.
“Adi, boleh minta tolong ngga?”tanyaku
“Minta tolong apa?”jawabnya
“Aku harus padus besok tapi Mia ngga bisa ikut, aku bingung kesana sama siapa. Bisa tolong anterin kesana?”pintaku
“Oh yaudah bisa kok tapi aku ngga masuk ya, aku mau ke Detos aja haha.” Katanya
“Yaudah ngga apa-apa, makasih ya maaf ngerepotin.”jawabku
Keesokan harinya, sepulang aku kuliah kami bertemu di depan kampus seperti yang telah kita sepakati semalam. Namun, hari itu cuaca tidak mendukung untuk pergi ke Depok. Aku ingin membatalkan pergi ke Depok, tapi satu sisi aku tidak enak sama Adi karna sudah jauh-jauh datang kesini untuk menjemputku. Akhirnya aku putuskan untuk pergi makan malam saja. Kami pun pergi ke sebuah tempat makan sederhana di Galaxi. Kebetulan malam itu bulan sedang bersinar dengan sangat indah. Kebetulan kami makan di outdoor. Kami saling bercerita satu sama lain sambil menunggu makanan yang kami pesan datang. Hingga makanan habis, kami masih lanjut berboncang-bincang. Seru juga malam itu. Hingga akhirnya ia mengatakan sesuatu. Sesuatu yang tidak aku sangka-sangka. Sesuatu yang sekaligus menjawab pertanyaan dalam hatiku selama ini.
“Aira, sebenernya selama ini aku suka sama kamu.”ungkapnya
*suasana berubah hening*
Dia mengatakan cinta kepadaku. Aku kaget dan jujur satu sisi aku senang tapi di sisi lain aku bingung harus bagaimana.
“Aira kok diem aja? Maaf ya kalau kamu ngga suka dengan ungkapanku ini aku Cuma mau jujur sama kamu.”katanya
“Bukan tidak suka, aku cuma ngga nyangka aja kamu bisa suka sama aku. Soalnya kita ini belum lama kenal. Kenapa kamu bisa suka sama aku?”tanyaku heran
“Entahlah. Hmm menurutku kamu baik, asik, aku nyambung ngobrol sama kamu. Dan kamu juga manis.”jawabnya dengan suara malu-malu
“Tapi aku ngga liat fisikmu, meskipun kita belum lama kenal entah mengapa aku saying sama kamu. Kamu mau jadi pacarku?”tanyanya
“Maaf aku ngga bisa jawab sekarang, aku minta waktu.”jawabku
“Yaudah ngga apa-apa tapi jangan lama-lama ya.”katanya
“Kasih aku waktu aku seminggu untuk berpikir.”pintaku
“Menurutku itu terlalu lama bagaimana kalau 3 hari?”pinta Adi
“Tidak, aku mau seminggu. Soalnya 3 hari menurutku terlalu cepat. Jujur saja kita ini baru kenal aku tidak bisa semudah itu menjawabnya. Aku perlu waktu untuk berpikir. Aku ngga mau salah memutuskan. Aku sadar memang kita belum lama kenal, tapi bagiku tidak adil rasanya kalau aku langsung menolakmu karena alasan kita baru kenal sehingga aku belum ada rasa.”jelasku
“Baiklah aku tunggu jawabanmu minggu depan.”
Selama diperjalanan pulang, aku masih tidak menyangka dengan ungkapan Adi tadi. Sampai dirumah pun aku masih kepikiran. Dikepalaku bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan dan jawaban apa yang harus kuberikan kepadanya.
*Seminggu kemudian*
Sore hari sepulang kuliah, aku menunggu Adi ditempat makan dekat kampus. Rasa deg-degan dan bingung apakah jawabanku ini sudah tepat atau tidak menyelimutiku. Tidak lama kemudian orang yang kutunggu datang. Rasa deg-deganku semakin menjadi. Jantung rasanya mau copot. Awalnya kami saling menyapa dan mengobrol santai. Karena menurutku, tidak enak rasanya baru bertemu langsung mengatakan masalah itu. Setelah makanan habis, baru aku memulai untuk mebicarakan hal itu.
“Adi, ehm ada yang ingin aku bicarakan.”
“Soal apa?”
“Kamu pasti tau Adi maksud perkataanku.”
“Oh soal minggu lalu ya? Lalu bagaimana keputusanmu?”
“Begini, aku sudah memikirkan mengenai hal itu. Adi, jujur aku senang kenal dan bisa akrab sama kamu. Tapi, maaf aku ngga bisa nerima kamu. Karena aku ngga ada rasa sama kamu dan aku hanya anggap kamu teman saja tidak lebih.”
“Makasih atas keputusanmu walau hasilnya tidak sesuai harapanku tapi ngga apa-apa setidaknya aku sudah lega sekarang.”ujar Adi dengan wajah sedih
Kami pun sepakat untuk berteman saja. Tapi, beberapa hari setelah itu Adi berusaha  untuk menjaga jarak dariku. Biasanya setiap pagi dia elalu mengucapkan selamat pagi melalui sms, kini tidak ada lagi ucapan itu. Tidak ada lagi kabar darinya. Dia menghilang. Hari demi hari aku lewati seperti biasanya, tapi semakin lama aku mulai kangen dengannya. Kangen dengan perhatiannya. Ingin sekali bertemu Adi lagi. Beberapa minggu kemudian aku bertemu lagi dengannya. Tuhan mengabulkan doaku. Aku senang sekali bertemu dengannya. Tapi entah mengapa kali ini berbeda. Saat aku bertemu dengannya lagi, aku merasa getaran yang tak bisa aku jelaskan. Aku sendiri tidak mengerti mengapa aku seperti ini. Mungkin ini cinta. Ya, sepertinya aku telah jatuh cinta kepadanya. Aku juga kembali dekat dengannya.
Keesokan harinya, aku pergi jalan-jalan dengannya ke sebuah Mall di Bekasi. Aku memintanya untuk menemaniku membeli baju untuk keponakkanku yang akan ultah beberapa hari lagi. Setelah itu, kami hanya berdiri memandangi suasana lantai bawah mall tersebut. Kami bingung mau kemana lagi. Kami pun mengobrol. Ditengah-tengah obrolan kami, Adi bertanya sesuatu. Sesuatu yang membuatku kaget kedua kalinya. Ya, dia mengungkapkan perasaannya sekali lagi padaku. Dan sekali lagi jawabanku masih sama, bahwa aku tidak bisa menjawabnya pada hari itu juga. Namun, kali ini aku menjanjikan untuk menjawabnya besok pulang kuliah. Lebih cepat, dibandingkan dulu.
Pagi pun tiba. Aku berangkat kuliah dan belajar seperti biasa.Tapi, ada yang beda setelah pulang kuliah. Ya, ada seseorang yang telah menungguku untuk bertemu. Bukan hanya bertemu, aku yakin dia sudah bertanya-tanya dalam hatinya mengenai keputusanku. Sayangmya diluar hujan, sehingga kami menunda untuk makan malam. Akibatnya, sakit maagku kambuh. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Aku mencoba meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Karena hujan sudah tidak deras hanya gerimis, kami nekat tetap pergi ke restaurant dekat kampus. Adi sangat perhatian kepadaku. Aku bersyukur ternyata dia benar-benar menyayangiku. Aku tak ingin berlama-lama membuat dia menunggu dengan keputusanku. Walaupun dia ingin aku untuk tidak memikirkan hal itu dulu hingga sakitku sembuh. Tapi, aku tetap akan mengatakan keputusanku malam ini. Lagipula, aku telah janji kepadanya.
“Adi, terima kasih kamu sudah baik dan perhatian kepadaku. Jangan khawatir ini sakit biasa kok, nanti juga sembuh.”aku berusaha meyakinkannya
“Biasa apanya kamu aja kelihatannya sakit banget begitu.”serunya
“Udah ngga apa-apa ini juga udah mendingan.”aku berusaha meyakinkannya lagi
“Adi, aku sudah memkirkan kata-katamu kemarin.“kataku
Muka Adi terlihat sekali nervous menunggu jawaban dariku
“Menurutku tidak ada salahnya kita coba untuk jalanin ini semua.”
“Maksud kamu apa Aira?”
“Ya kita coba jalanin dulu ini semua.”
“Kamu terima aku?”
“Iya Adi aku terima kamu.”
“Makasih ya Aira aku senang sekali mendengarnya.”Adi tersenyum
“Tapi..”
“Tapia pa Aira?”tanya Adi penasaran
“Kalau kita backstreet ngga apa-apa?”
“Loh memangnya kenapa harus backstreet?”
“Karena orang tuaku belum mengizinkan aku pacaran. Maaf ya Adi aku harap kamu mengerti.”
“Hmm yaudah ngga apa-apa, pelan-pelan kita jalanin sampai akhirnya kamu dibolehin pacaran.”
Ya Tuhan aku beruntung sekali memilik Adi. Selain baik, dia juga sabar dan mau mengerti dengan keadaanku. Hari semakin malam, kami memutuskan untuk pulang. Tapi aku memilih pulang sendiri dengan angkutan umum. Awalnya Adi tidak setuju karena sudah malam dia takut aku kenapa-kenapa. Tapi aku maksa untuk pulang sendiri, akhirmya dia mengizinkanku. Saat tiba di depan gang rumah, betapa kagetnya aku. Karena, Adi sudah menunggu disana dengan motornya.
“Loh Adi sejak kapan kamu disitu?”
“Belum lama nyampe”
“Ngapain kamu disitu?”
“Emang ngga boleh ya Aira? Ngusir nih ceritanya?” ledeknya
“Bukan gitu, tapi ini sudah malem mending kamu pulang rumahmu jauh pula.”
“Aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja dan sampe rumah dengan selamat. Sudah malem banget kan ngeri naik angkot.”imbuhnya
“Makasih Adi sudah mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja kok. Kamu perhatian banget.”kataku

Hari demi hari, bulan demi bulan kita lewati. Senang, sedih, marah, sakit semua kita alami. Tapi kita masih tetap bersama. Saling support, menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Terima kasih sudah hadir dan memberi warna dikehidupanku. Terima kasih telah menyayangiku dengan tulus. Terima kasih perhatiannya selama ini. Terima kasih untuk tetap bertahan, berada disampingku. Aku akan selalu mencintaimu Adi. Disini, tepat 2 tahun lalu kita jadian. Dan kini, ditempat yang sama kita merayakan secara sederhana hari jadian kita berdua. Hanya kamu dan aku. Beserta cupcake kecil bertuliskan “Happy Anniversary” dan setangkai bunga mawar darimu untukku.