You+Me= Together
Rasanya ngga menyangka
karena sebentar lagi hubungan aku dan Adi akan menginjak usia 2 tahun. Sudah
banyak suka dan duka yang kita lalui bersama. Aku masih ingat betul pertama
kali kita bertemu, berkenalan, hingga kita resmi pacaran. Buatku, kenangan itu
sangat indah dan ngga akan aku lupakan. Setiap aku mengingatnya aku pasti
senyum-senyum sendiri. Ya memang seperti orang gila yang ngga ada angin ngga
ada hujan ngga ada petir tiba-tiba senyum sendiri. Haha.. Tapi itulah cinta.
*di halte bus*
Hari ini aku harus
mengikuti latihan dasar paduan suara di kampus Depok. Aku sangat bersemangat
sekali. Tapi, temanku belum dating juga. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul
06.30 WIB dan acara dimulai pukul 08.00WIB.
“Aduh Mia kok belum
datang juga sih apa aku telepon aja ya?”pikirku
Aku pun memutuskan
untuk menelponnya.
“Mia, kamu dimana? Aku
sudah di halte bus nih cepetan dateng ya aku takut terlambat!”pintaku
“Aku masih dijalan,
sebentar lagi sampai kok tunggu ya.”jawabnya
Akhirnya Mia datang
juga. Aku sangat lega. Lalu kami naik bus menuju Depok. Sesampainya disana
acara belum dimulai. Aku dan Mia duduk-duduk terlebih dahulu di luar ruangan
sambil berbincang-bincang. Beberapa menit kemudian acarapun dimulai.
“Selamat Datang di
acara DIKSAR Paduan Suara Swaradarmagita.”sapa ketua panitia
“Mia, aku ngga sabar
banget nih pengen cepet-cepet latihan.”kataku
“Haha aku juga.”kata
Mia
“Tapi ngomong-ngomong
ini yang ikut diksar dari kampus kalimalang kita berdua doang ya?”tanyaku
“Iya kayaknya say,
abisnya pada males ke kampus Depok.”jawabnya
Lalu latihan pun
dimulai. Karena masih dasar, kami baru berlatih tangga nadasambil diiringi
dentuman piano. Disaat latihan saya dan teman saya berusaha fokus mengikuti
nada demi nada.
“Say, ternyata bukan
kita aja loh yang dari kalimalang”seru Mia
“Serius say? Tahu
darimana?” tanyaku
“Tadi aku lihat status
Facebook temanku dia anak Sistem Informasi”kata Mia
“Asik ada temennya
lagi. Suruh gabung kesini aja”kataku dengan antusias
“Iya nanti pas
istirahat makan siang kita ketemuan sama mereka sekalian aku kenalin ke
kamu.”kata Mia
Akhirnya waktu
istirahat makan siang pun tiba. Aku penasaran dengan teman-temannya Mia. Aku
senang jika perwakilan dari kalimalang bukan kami saja. Tak lama kemudian ada 3
orang asing menghampiri kami. Aku menganggap mereka orang asing karena aku
tidak mengenal mereka, tapi tentu saja tidak bagi Mia. Karena Mia sudah
mengenal mereka sejak sebelum masuk kuliah.
“Aira, kenalkan ini
teman-temanku mereka dari kampus kalimalang sama seperti kita.”kata Mia
“Halo aku Intan”sapanya
“Aira”jawabku
Aku menyalami satu
persatu temannya Mia, mulai dari Intan,Budi, hingga yang terakhir.
“Adi”sapanya
“Aira”sapaku balik
Itulah awal
perkenalanku dengan Adi. Biasa saja memang. Dia orangnya sangat pendiam.
Sehingga lebih dominan aku yang berbicara kepadanya. Seperti bertanya kuliah
juran apa, kelas berapa. Berbasa-basi selayaknya yang orang lain lakukan ketika
baru saling mengenal. Aku memang seperti itu, berusaha bersikap ramah dan tidak
sungkan untuk menyapa duluan meskipun baru kenal. Tapi sangat berbeda dengan
Adi. 180 derajat bedanya. Ibarat 2 sisi telapak tangan. Haha.. Berlebihan
memang ungkapanku ini, tapi ini kenyataannya. Adi orangnya sangat pendiam.
Sedangkan aku aslinya cerewet. Setiap ditanya, Adi selalu menjawab singkat dan
malu-malu.. Saat melihatnya pun aku merasa biasa saja. Tidak ada yang special.
Adi juga pasti merasakan hal yang sama. Aku yakin itu.
“Aku heran ada orang
yang bisa pendiem selama itu, sedangkan aku 1 menit tidak berbicara rasanya
susah banget. Pasti ada saja yang aku omongin.”gumamku dalam hati
“Hmm menurutku Adi
kayaknya orangnya baik, walaupun pendiem banget, ya lumayan juga.”gumamku lagi
Setelah selesai makan
siang, kami semua melanjutkan latihan paduan suara. Tidak terasa waktu telah menunjukkan
pukul 16.00 WIB. Waktunya pulang tiba. Capek memang tapi sangat menyenangkan.
Kali ini aku tidak berdua saja dengan Mia. Tapi pulang bareng dengan mereka
juga. Yaitu, bareng Intan dan Adi. Selama diperjalanan, Intan tertidur.
Sedangkan Mia sibuk dengan BB-nya. Bosan memang tidak ada yang bisa diajak
ngobrol. Aku melihat Adi duduk didepanku. Aku berpikir untuk mengajaknya
ngobrol. Walaupun tidak yakin, karena aku tahu Adi orangnya pendiam. Tapi aku
mencoba ngobrol dengannya. Dan sudah dapat ditebak, jawabannya selalu singkat
dengan ekspresi malu-malu. Agak kesal memang, tapi mau gimana lagi. Akhirnya
aku memutuskan untuk menikmati kembali perjalanan dengan diam. Aku berpikir
daripada bertanya dijawab singkat lebih baik diam. Tapi sikap pendiamnya itu
membuat aku agak penasaran dengannya. Lalu kami sampai di terminal bus. Kami
pun berpisah dengan mereka disana. Aku dan Mia menaikki bus jurusan yang
berbeda dengan Intan serta Adi. Dan itu terakhir aku bertemu dengan Adi.
Hingga suatu ketika sekitar
satu bulan setelah itu, aku bertemu Intan dan Adi lagi di kampus. Mereka
tersenyum dan menyapaku. Aku pun tersenyum serta menyapa balik. Tidak lama
memang, karena mereka harus segera masuk ke kelas. Mereka lalu pergi
meninggalkanku. Namun masih dapat terlihat karena jaraknya masih dekat
denganku. Disaat itu entah mengapa tiba-tiba perasaanku mengatakan sesuatu.
“Entah kenapa aku akan
kenal Adi semakin dekat dan akan punya kisah dengannya.”gumamku
Aku sendiri kaget dan
bingung mengapa tiba-tiba perasaanku mengatakan seperti itu. Aku juga
bertanya-tanya pada diriku sendiri apa itu akan benar-benar terjadi atau aku
hanya ngelantur. Entahlah. Biar waktu yang menjawab. Mereka terus menjauh.
Menjauh. Hingga bayang-bayang mereka tidak terlihat lagi.
*Satu setengah bulan
kemudian*
“Aduh bosen enaknya
ngapan ya?” pikirku
“Hmm online Facebook
aja deh.”kataku
Tak lama kemudian ada
notif chat masuk di Facebookku. Awalnya aku tidak kenal itu siapa, tapi setelah
melihat profile FB-nya, aku baru ingat. Itu Adi yang ketemu di paduan suara
waktu itu.
“Loh tumben Adi
ngechat.”pikirku
“Aira, kamu masih
latihan padus?”tanyanya di chat
“Masih kok.”kataku
“Rajin amat aku mah
udah ngga males soalnya jauh haha”ujarnya
“Woo Adi mah emang
males haha”ledekku
Awalnya aku berpikir
Adi hanya basa-basi atau modus. Haha.. Karena terlihat sekali dari
chat-chatnya.Tapi tidak masalah karena aku merasa nyambung ngobrol dengannya di
chat. Ternyata dia orangnya asik juga. Semenjak itu kami jadi sering chatting
di Facebook dan semakin akrab. Hingga pada suatu hari ia meminta nomer
handphoneku. Aku semakin yakin kalau dia menyukaiku. Tapi aku tidak ingin
kepedean. Aku berusaha menghilangkan pikiran itu. Meskipun perasaanku
mengatakan seperti itu.
“Adi, boleh minta
tolong ngga?”tanyaku
“Minta tolong
apa?”jawabnya
“Aku harus padus besok
tapi Mia ngga bisa ikut, aku bingung kesana sama siapa. Bisa tolong anterin
kesana?”pintaku
“Oh yaudah bisa kok
tapi aku ngga masuk ya, aku mau ke Detos aja haha.” Katanya
“Yaudah ngga apa-apa,
makasih ya maaf ngerepotin.”jawabku
Keesokan harinya,
sepulang aku kuliah kami bertemu di depan kampus seperti yang telah kita
sepakati semalam. Namun, hari itu cuaca tidak mendukung untuk pergi ke Depok. Aku
ingin membatalkan pergi ke Depok, tapi satu sisi aku tidak enak sama Adi karna
sudah jauh-jauh datang kesini untuk menjemputku. Akhirnya aku putuskan untuk
pergi makan malam saja. Kami pun pergi ke sebuah tempat makan sederhana di
Galaxi. Kebetulan malam itu bulan sedang bersinar dengan sangat indah.
Kebetulan kami makan di outdoor. Kami saling bercerita satu sama lain sambil
menunggu makanan yang kami pesan datang. Hingga makanan habis, kami masih
lanjut berboncang-bincang. Seru juga malam itu. Hingga akhirnya ia mengatakan
sesuatu. Sesuatu yang tidak aku sangka-sangka. Sesuatu yang sekaligus menjawab
pertanyaan dalam hatiku selama ini.
“Aira, sebenernya
selama ini aku suka sama kamu.”ungkapnya
*suasana berubah
hening*
Dia mengatakan cinta
kepadaku. Aku kaget dan jujur satu sisi aku senang tapi di sisi lain aku
bingung harus bagaimana.
“Aira kok diem aja?
Maaf ya kalau kamu ngga suka dengan ungkapanku ini aku Cuma mau jujur sama
kamu.”katanya
“Bukan tidak suka, aku
cuma ngga nyangka aja kamu bisa suka sama aku. Soalnya kita ini belum lama
kenal. Kenapa kamu bisa suka sama aku?”tanyaku heran
“Entahlah. Hmm
menurutku kamu baik, asik, aku nyambung ngobrol sama kamu. Dan kamu juga
manis.”jawabnya dengan suara malu-malu
“Tapi aku ngga liat
fisikmu, meskipun kita belum lama kenal entah mengapa aku saying sama kamu.
Kamu mau jadi pacarku?”tanyanya
“Maaf aku ngga bisa
jawab sekarang, aku minta waktu.”jawabku
“Yaudah ngga apa-apa
tapi jangan lama-lama ya.”katanya
“Kasih aku waktu aku
seminggu untuk berpikir.”pintaku
“Menurutku itu terlalu
lama bagaimana kalau 3 hari?”pinta Adi
“Tidak, aku mau
seminggu. Soalnya 3 hari menurutku terlalu cepat. Jujur saja kita ini baru
kenal aku tidak bisa semudah itu menjawabnya. Aku perlu waktu untuk berpikir.
Aku ngga mau salah memutuskan. Aku sadar memang kita belum lama kenal, tapi
bagiku tidak adil rasanya kalau aku langsung menolakmu karena alasan kita baru
kenal sehingga aku belum ada rasa.”jelasku
“Baiklah aku tunggu
jawabanmu minggu depan.”
Selama diperjalanan
pulang, aku masih tidak menyangka dengan ungkapan Adi tadi. Sampai dirumah pun
aku masih kepikiran. Dikepalaku bertanya-tanya apa yang harus aku lakukan dan
jawaban apa yang harus kuberikan kepadanya.
*Seminggu kemudian*
Sore hari sepulang
kuliah, aku menunggu Adi ditempat makan dekat kampus. Rasa deg-degan dan
bingung apakah jawabanku ini sudah tepat atau tidak menyelimutiku. Tidak lama
kemudian orang yang kutunggu datang. Rasa deg-deganku semakin menjadi. Jantung
rasanya mau copot. Awalnya kami saling menyapa dan mengobrol santai. Karena
menurutku, tidak enak rasanya baru bertemu langsung mengatakan masalah itu.
Setelah makanan habis, baru aku memulai untuk mebicarakan hal itu.
“Adi, ehm ada yang
ingin aku bicarakan.”
“Soal apa?”
“Kamu pasti tau Adi
maksud perkataanku.”
“Oh soal minggu lalu
ya? Lalu bagaimana keputusanmu?”
“Begini, aku sudah memikirkan
mengenai hal itu. Adi, jujur aku senang kenal dan bisa akrab sama kamu. Tapi,
maaf aku ngga bisa nerima kamu. Karena aku ngga ada rasa sama kamu dan aku
hanya anggap kamu teman saja tidak lebih.”
“Makasih atas
keputusanmu walau hasilnya tidak sesuai harapanku tapi ngga apa-apa setidaknya
aku sudah lega sekarang.”ujar Adi dengan wajah sedih
Kami pun sepakat untuk
berteman saja. Tapi, beberapa hari setelah itu Adi berusaha untuk menjaga jarak dariku. Biasanya setiap
pagi dia elalu mengucapkan selamat pagi melalui sms, kini tidak ada lagi ucapan
itu. Tidak ada lagi kabar darinya. Dia menghilang. Hari demi hari aku lewati
seperti biasanya, tapi semakin lama aku mulai kangen dengannya. Kangen dengan
perhatiannya. Ingin sekali bertemu Adi lagi. Beberapa minggu kemudian aku
bertemu lagi dengannya. Tuhan mengabulkan doaku. Aku senang sekali bertemu
dengannya. Tapi entah mengapa kali ini berbeda. Saat aku bertemu dengannya
lagi, aku merasa getaran yang tak bisa aku jelaskan. Aku sendiri tidak mengerti
mengapa aku seperti ini. Mungkin ini cinta. Ya, sepertinya aku telah jatuh
cinta kepadanya. Aku juga kembali dekat dengannya.
Keesokan harinya, aku
pergi jalan-jalan dengannya ke sebuah Mall di Bekasi. Aku memintanya untuk
menemaniku membeli baju untuk keponakkanku yang akan ultah beberapa hari lagi.
Setelah itu, kami hanya berdiri memandangi suasana lantai bawah mall tersebut.
Kami bingung mau kemana lagi. Kami pun mengobrol. Ditengah-tengah obrolan kami,
Adi bertanya sesuatu. Sesuatu yang membuatku kaget kedua kalinya. Ya, dia
mengungkapkan perasaannya sekali lagi padaku. Dan sekali lagi jawabanku masih
sama, bahwa aku tidak bisa menjawabnya pada hari itu juga. Namun, kali ini aku
menjanjikan untuk menjawabnya besok pulang kuliah. Lebih cepat, dibandingkan dulu.
Pagi pun tiba. Aku
berangkat kuliah dan belajar seperti biasa.Tapi, ada yang beda setelah pulang
kuliah. Ya, ada seseorang yang telah menungguku untuk bertemu. Bukan hanya
bertemu, aku yakin dia sudah bertanya-tanya dalam hatinya mengenai keputusanku.
Sayangmya diluar hujan, sehingga kami menunda untuk makan malam. Akibatnya,
sakit maagku kambuh. Dia terlihat sangat khawatir dengan keadaanku. Aku mencoba
meyakinkannya bahwa aku baik-baik saja. Karena hujan sudah tidak deras hanya
gerimis, kami nekat tetap pergi ke restaurant dekat kampus. Adi sangat
perhatian kepadaku. Aku bersyukur ternyata dia benar-benar menyayangiku. Aku
tak ingin berlama-lama membuat dia menunggu dengan keputusanku. Walaupun dia
ingin aku untuk tidak memikirkan hal itu dulu hingga sakitku sembuh. Tapi, aku
tetap akan mengatakan keputusanku malam ini. Lagipula, aku telah janji
kepadanya.
“Adi, terima kasih kamu
sudah baik dan perhatian kepadaku. Jangan khawatir ini sakit biasa kok, nanti
juga sembuh.”aku berusaha meyakinkannya
“Biasa apanya kamu aja
kelihatannya sakit banget begitu.”serunya
“Udah ngga apa-apa ini
juga udah mendingan.”aku berusaha meyakinkannya lagi
“Adi, aku sudah
memkirkan kata-katamu kemarin.“kataku
Muka Adi terlihat
sekali nervous menunggu jawaban dariku
“Menurutku tidak ada
salahnya kita coba untuk jalanin ini semua.”
“Maksud kamu apa Aira?”
“Ya kita coba jalanin
dulu ini semua.”
“Kamu terima aku?”
“Iya Adi aku terima
kamu.”
“Makasih ya Aira aku
senang sekali mendengarnya.”Adi tersenyum
“Tapi..”
“Tapia pa Aira?”tanya
Adi penasaran
“Kalau kita backstreet
ngga apa-apa?”
“Loh memangnya kenapa
harus backstreet?”
“Karena orang tuaku
belum mengizinkan aku pacaran. Maaf ya Adi aku harap kamu mengerti.”
“Hmm yaudah ngga
apa-apa, pelan-pelan kita jalanin sampai akhirnya kamu dibolehin pacaran.”
Ya Tuhan aku beruntung
sekali memilik Adi. Selain baik, dia juga sabar dan mau mengerti dengan
keadaanku. Hari semakin malam, kami memutuskan untuk pulang. Tapi aku memilih
pulang sendiri dengan angkutan umum. Awalnya Adi tidak setuju karena sudah
malam dia takut aku kenapa-kenapa. Tapi aku maksa untuk pulang sendiri,
akhirmya dia mengizinkanku. Saat tiba di depan gang rumah, betapa kagetnya aku.
Karena, Adi sudah menunggu disana dengan motornya.
“Loh Adi sejak kapan
kamu disitu?”
“Belum lama nyampe”
“Ngapain kamu disitu?”
“Emang ngga boleh ya
Aira? Ngusir nih ceritanya?” ledeknya
“Bukan gitu, tapi ini
sudah malem mending kamu pulang rumahmu jauh pula.”
“Aku hanya ingin
memastikan kamu baik-baik saja dan sampe rumah dengan selamat. Sudah malem
banget kan ngeri naik angkot.”imbuhnya
“Makasih Adi sudah
mengkhawatirkanku, tapi aku baik-baik saja kok. Kamu perhatian banget.”kataku
Hari demi hari, bulan
demi bulan kita lewati. Senang, sedih, marah, sakit semua kita alami. Tapi kita
masih tetap bersama. Saling support, menerima kelebihan dan kekurangan satu
sama lain. Terima kasih sudah hadir dan memberi warna dikehidupanku. Terima
kasih telah menyayangiku dengan tulus. Terima kasih perhatiannya selama ini.
Terima kasih untuk tetap bertahan, berada disampingku. Aku akan selalu
mencintaimu Adi. Disini, tepat 2 tahun lalu kita jadian. Dan kini, ditempat
yang sama kita merayakan secara sederhana hari jadian kita berdua. Hanya kamu
dan aku. Beserta cupcake kecil bertuliskan “Happy Anniversary” dan setangkai
bunga mawar darimu untukku.