Sunday, September 28, 2014


1. Jelaskan Etika sebagai tinjauan!

A. Pengertian Etika
Etika merupakan ilmu, karena memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Etika melihat atau menilai dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia. Berasal dari bahasa Yunani Kuno yaitu "ethikos", yang artinya "timbul dari kebiasaan" merupakan sebuah atau sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.
Berikut merupakan beberapa pengertian etika menurut para ahli :
1.      K.Bertens       : Etika merupakan nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya.

2.      Fagothey        :   Etika adalah studi mengenai kehendak manusia, yaitu kehendak yang berhubungan dengan keputusan yang benar dan yang salah dalam tindak perbuatannya.


3.      Menurut Prof DR. Franz Magnis Suseno  : Etika adalah ilmu yang mencari orientasi atau ilmu yang memberikan arah dan pijakan pada tindakan manusia.


B. Prinsip-Prinsip Etika
Pada peradaban sejarah manusia sejak abad keempat sebelum Masehi para ahli telah mencoba menjabarkan berbagai corak landasan etika sebagai pedoman hidup bermasyarakat. Awalnya para ahli telah mengidentifikasi terdapat banyak ide bahkan mencapai ratusan. Namun, setelah itu dapat diringkas menjadi 6 prinsip yaitu :
1. Prinsip Keindahan
Prinsip ini mendasari segala sesuatu yang mencakup penikmatan rasa senang terhadap keindahan. Sehingga dengan berlandaskan prinsip ini, manusia jadi memperhatikan nilai-nilai keindahan dan ingin menampakkan sesuatu yang indah dalam perilakunya.
2. Prinsip Persamaan
Prinsip ini melandasi perilaku yang tidak diskrminatif atas dasar apapun karena pada hakikatnya setiap manusia memiliki hak dan tanggung jawab yang sama.

3. Prinsip Kebaikan
Prinsip ini mendasari perilaku seseorang agar selalu berupaya berbuat kebaikan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pada hakikatnya manusia selalu ingin berbuat baik, sebab ada timbal balik. Dengan berbuat baik seseorang akan dapat diterima oleh lingkungannya. Prinsip ini biasanya berkenaan dengan nilai-nilai kemanusiaan misalnya hormat- menghormati, kasih sayang, membantu orang lain, dan sebagainya.
4. Prinsip Keadilan
Prinsip ini mendasari seseorang untuk bertindak adil dan proporsional serta tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Sehingga tidak ada yang dirugikan akan hak dan kepentingannya.
5. Prinsip Kebebasan
Dalam prinsip kehidupan dan hak asasi manusia setiap individu mempunyai keleluasaan untuk bertindak dan menentukan pilihannya sendiri. Sepanjang tidak merugikan atau mengganggu hak-hak orang lain. Maka dari itu, setiap kebebasan harus diikuti dengan tanggung jawab sehingga manusia tidak melakukan tindakan yang semena-mena kepada orang lain
6. Prinsip Kebenaran
Kebenaran biasanya digunakan dalam logika keilmuan yang muncul dari hasil pemikiran yang logis/rasional. Kebenaran harus dapat dibuktikan dan ditunjukkan agar kebenaran itu dapat diyakini oleh individu dan masyarakat. 

C. Basis Teori Etika
1. Teori Teleologi
Istilah teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “telos” yang memiliki arti tujuan. Teleologi mengukur baik buruknya suatu tindakan yaitu berdasarkan tujuan yang akan dicapai atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tidakan yang telah dilakukan. Dalam tori teleologi terdapat dua aliran, yaitu.
a.    Egoisme etis
Inti pandangan dari egoisme adalah tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya sendiri.

b.    Utilitarianisme berasal dari bahasa Latin yaitu “utilis” yang artinya bermanfaat. Dalam pemikiran utilitarianisme, suatu perbuatan memiliki arti baik jika membawa manfaat bagi seluruh masyarakat ( The greatest happiness of the greatest number ). Dan kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar.

2. Deontologi
Merupakan salah satu teori etika yang palig pentng. Deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu deon” yang memiliki arti kewajiban. Sehingga dasar baik buruknya perbuatan manusia adalah kewajiban. Pendekatan deontology sudah dapat diterima dalam konteks agama.

3. Teori Hak
            Teori ini paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku. Teori hak merupakan aspek teori deontologi  karena berkaitan dengan kewajiban.

4. Teori Keutamaan
            Dalam teori keutamaan memandang sikap atau akhlak seseorang. bisa didefinisikan sebagai disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan seseorang untuk bertingkah laku baik secara moral. 

D. Egoism
Kata egoisme merupakan istilah yang berasal dari bahasa Latin yakni ego, yang berasal dari kata Yunani kuno serta masih digunakan dalam bahasa Yunani modern yang berarti diri atau saya, dan kata isme, digunakan untuk menunjukkan sistem kepercayaannya. Egoisme tidak memandang kepedulian terhadap orang lain maupun orang banyak pada umumnya karena hanya memikirkan diri sendiri.

2. DALAM MENCIPTAKAN ETIKA BISNIS , ADA BEBERAPA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN, ANTARA LAIN PENGENDALIAN DIRI & PENGEMBANGAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL (SOCIAL RESPONSIBLITY )

1. Pengendalian Diri
Maksunya yaitu, pelaku-pelaku bisnis diharapkan mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang atau menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut. Walau keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi sekitarnya. Inilah etika bisnis yang "etik" atau “etis”.

2. Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility)
Pelaku bisnis dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya sekedar peduli dengan menggunakan uang tetapi lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi pada saat terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya.