Saturday, January 10, 2015

1. Jelaskan tahap pengembangan moral Lawrence Kohlberg
                


Kohlberg menggunakan dilema moral untuk mengetahui kedudukan seseorang dalam tahap-tahap perkembangan penalaran moral. Tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg :
1. Preconventional Morality
Preconventional Morality  merupakan tingkat pertama dalam tahap perkembangan menurut Lawrence Kohlberg. Dalam tahap ini, anak sangat tanggap terhadap norma-norma budaya, seperti norma-norma baik atau buruk, salah atau benar, dan lain-lain. Anak akan mengaitkan norma-norma tersebut sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas tindakan yang dilakukan. Selain itu anak juga menilai norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik dari yang menerapkan norma-norma tersebut. Pada tingkat prekonvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
  1. Punishment and obedience orientation
Tahap  ini disebut  juga moralitas heteronomi. Konsekuensi yang ditimbulkan dari suatu tindakan sangat menentukan baik-buruknya suatu tindakan yang dilakukan, tanpa melihat sisi manusianya. Tindakan-tindakan yang tidak diikuti dengan konsekuensi dari tindakan tersebut, tidak dianggap sesuatu hal yang buruk. Penalaran pada tahap ini sangat egosentrik, penalar tidak dapat mempertimbangkan perspektif orang lain.
  1. Individualism, instrumental purpose,  and exchange
Tahap ini dapat disebut sebagai tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan dan keinginan). Kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain merupakan pertimbangan utama penalaran pada tingkat ini. Suatu tindakan dikatakan benar apabila tindakan tersebut mampu memenuhi kebutuhan untuk diri sendiri maupun orang lain. Jika  tidak memberikan  pemenuhan kebutuhan baik untuk diri sendiri maupun orang lain dapat dianggap sebagai tindakan baik selama tindakan tersebut tidak merugikan. Pada tahap ini hubungan antar manusia digambarkan sebagaimana hubungan yang  berlangsung di pusat perbelanjaan, di mana terdapat timbal balik dan sikap terus terang yang menempati kedudukan yang cukup penting.

2. Conventional Morality
Pada tingkat perkembangan moral konvensional, jika dapat memenuhi harapan keluarga, kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji. Tindakan tersebut tentunya dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi yang muncul, namun dibutuhkan sikap dan loyalitas yang sesuai dengan harapan-harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku. Pada tingkat ini, usaha seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan tertib sosial sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positif antara diri dengan orang lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada tingkat konvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
  1. Interpersonal Concordance atau Good-Boy/Good-Girl Orientation
Pada tahap ini anak/sesorang memiliki pandangan mengenai tindakan yang bermoral. Menurutnya tindakan bermoral adalah tindakan yang menyenangkan, membantu, atau tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain. Anak  biasanya akan menyesuaikan diri dengan apa yang dimaksud tindakan bermoral. Moralitas suatu tindakan diukur dari niat yang terkandung dalam tindakan tersebut. Jadi, setiap anak akan berusaha untuk dapat menyenangkan orang lain.
  1. Law and Order Orientation
Sedangkan pada tahap ini, pandangan anak selalu mengarah pada otoritas, pemenuhan aturan-aturan, dan juga upaya untuk memelihara tertib sosial. Tindakan bermoral dianggap sebagai tindakan yang mengarah pada pemenuhan kewajiban, penghormatan terhadap suatu otoritas, dan pemeliharaan tertib sosial yang diakui sebagai satu-satunya tertib sosial yang ada.
3. Postconventional Morality or Principled
Postconventional Morality or Principled merupakan tingkat ketiga dalam tahap perkembangan menurut Lawrence Kohlberg. Pada tingkat ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus mengaitkan dengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan seseorang dengan kelompok. Pada tingkat ketiga ini, di dalamnya mencakup dua tahap perkembangan moral, yaitu:
  1. Social-Contract, Legalistic Orientation
Merupakan tahap kematangan moral yang cukup tinggi. Pada tahap ini tindakan yang dianggap bermoral merupakan tindakan-tindakan yang mampu merefleksikan hak-hak individu dan memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati oleh masyarakat luas. Sehingga seseorang yang berada pada tahap ini menyadari perbedaan individu dan pendapat. Tahap ini juga dianggap sebagai tahap yang memungkinkan tercapainya musyawarah mufakat. Tahap ini sangat memungkinkan seseorang melihat benar dan salah sebagai suatu hal yang berkaitan dengan nilai-nilai dan pendapat pribadi seseorang. Hukum atau aturan juga dapat dirubah jika dipandang hal tersebut lebih baik  bagi masyarakat.
  1. Orientation of Universal Ethical Principles
Dalam tahap ini, moral dipandang benar sehingga tidak harus dibatasi oleh hukum atau aturan dari kelompok sosial atau masyarakat, tetapi lebih dibatasi oleh kesadaran manusia dengan dilandasi prinsip-prinsip etis. Prinsip-prinsip tersebut dianggap  jauh lebih baik, lebih luas dan abstrak dan bisa mencakup prinsip-prinsip umum seperti keadilan, persamaan HAM, dan sebagainya.

2. Apa yang menentukan tingkatan intensitas masalah etika?
Ada 4 tingkatan intensitas mengenai etika, yaitu :
  1. Etika atau moral pribadi yaitu yang memberikan teguran tentang baik atau buruk, yang sangat tergantung kepada beberapa faktor antara lain pengaruh orang tua, keyakinan agama, budaya, adat istiadat, dan pengalaman masa lalu.
  2.  Etika profesi, yaitu serangkaian norma atau aturan yang menuntun perilaku kalangan profesi tertentu.
  3. Etika organisasi yaitu serangkaian aturan dan norma yang bersifat formal dan tidak formal yang menuntun perilaku dan tindakan anggota organisasi yang bersangkutan.
  4. Etika sosial, yaitu norma-norma yang menuntun perilaku dan tindakan anggota masyarakat agar keutuhan kelompok dan anggota masyarakat selalu terjaga atau terpelihara.

3. Jelaskan jenis-jenis penyimpangan ditempat kerja!

Penyimpangan ditempat kerja adalah perilaku tidak etis yang melanggar norma-norma organisasi mengenai benar atau salah. Terdapat 4 jenis penyimpangan di tempat kerja, yaitu :

  1. Penyimpangan Produksi
Merupaka perilaku tidak etis dengan merusak mutu dan jumlah hasil produksi. Misalnya : pulang lebih awal, beristirahat lebih lama, sengaja bekerja lamban, sengaja membuang-buang sumber daya.  

  1. Penyimpangan Hak Milik
Merupakan perilaku tidak etis terhadap harta milik perusahaan. Misalnya : menyabot, mencuri atau merusak peralatan, mengenakan tarif jasa yang lebih tinggi dan mengambil kelebihannya, menipu jumlah jam kerja, mencuri dari perusahaan lain.

  1. Penyimpangan Politik
Menggunakan pengaruh seseorang untuk merugikan orang lain dalam perusahaan. Misalnya : mengambil keputusan berdasarkan pilih kasih dan bukan kinerja, menyebarkn kabr burung tentang rekan kerja, menuduh orang lain atas kesalahan yang tidak dibuat.

  1. Penyerangan Pribadi
Merupakan sikap bermusuhan atau perilaku menyerang terhadap orang lain. Misalnya : pelecehan seksual, perkataan kasar, mencuri dari rekan kerja, mengancam rekan kerja secara pribadi.