Kohlberg menggunakan dilema
moral untuk mengetahui kedudukan seseorang dalam tahap-tahap perkembangan
penalaran moral. Tahap perkembangan moral menurut Lawrence Kohlberg :
1.
Preconventional Morality
Preconventional
Morality merupakan tingkat pertama dalam
tahap perkembangan menurut Lawrence Kohlberg. Dalam tahap ini, anak
sangat tanggap terhadap norma-norma budaya, seperti norma-norma baik atau
buruk, salah atau benar, dan lain-lain. Anak akan mengaitkan norma-norma
tersebut sesuai dengan akibat yang akan dihadapi atas tindakan yang dilakukan.
Selain itu anak juga menilai norma-norma tersebut berdasarkan kekuatan fisik
dari yang menerapkan norma-norma tersebut. Pada tingkat prekonvensional ini
dibagi menjadi dua tahap yaitu:
- Punishment
and obedience orientation
Tahap ini disebut juga moralitas heteronomi.
Konsekuensi yang ditimbulkan dari suatu tindakan sangat menentukan
baik-buruknya suatu tindakan yang dilakukan, tanpa melihat sisi manusianya. Tindakan-tindakan
yang tidak diikuti dengan konsekuensi dari tindakan tersebut, tidak dianggap
sesuatu hal yang buruk. Penalaran pada tahap ini sangat egosentrik, penalar
tidak dapat mempertimbangkan perspektif orang lain.
- Individualism,
instrumental purpose, and
exchange
Tahap
ini dapat disebut sebagai tujuan instrumental, individualisme dan pertukaran (kebutuhan
dan keinginan). Kebutuhan pribadi dan kebutuhan orang lain merupakan
pertimbangan utama penalaran pada tingkat ini. Suatu tindakan
dikatakan benar apabila tindakan tersebut mampu memenuhi kebutuhan untuk diri
sendiri maupun orang lain. Jika tidak
memberikan pemenuhan kebutuhan baik
untuk diri sendiri maupun orang lain dapat dianggap sebagai tindakan baik
selama tindakan tersebut tidak merugikan. Pada tahap ini hubungan antar manusia
digambarkan sebagaimana hubungan yang
berlangsung di pusat perbelanjaan, di mana terdapat timbal balik dan
sikap terus terang yang menempati kedudukan yang cukup penting.
2.
Conventional Morality
Pada
tingkat perkembangan moral konvensional, jika dapat memenuhi harapan keluarga,
kelompok, masyarakat, maupun bangsanya merupakan suatu tindakan yang terpuji.
Tindakan tersebut tentunya dilakukan tanpa harus mengaitkan dengan konsekuensi
yang muncul, namun dibutuhkan sikap dan loyalitas yang sesuai dengan
harapan-harapan pribadi dan tertib sosial yang berlaku. Pada tingkat ini, usaha
seseorang untuk memperoleh, mendukung, dan mengakui keabsahan tertib sosial
sangat ditekankan, serta usaha aktif untuk menjalin hubungan positif antara
diri dengan orang lain maupun dengan kelompok di sekitarnya. Pada tingkat
konvensional ini dibagi menjadi dua tahap yaitu:
- Interpersonal
Concordance atau Good-Boy/Good-Girl Orientation
Pada
tahap ini anak/sesorang memiliki pandangan mengenai tindakan yang bermoral.
Menurutnya tindakan bermoral adalah tindakan yang menyenangkan, membantu, atau
tindakan yang diakui dan diterima oleh orang lain. Anak biasanya akan menyesuaikan diri dengan apa
yang dimaksud tindakan bermoral. Moralitas suatu tindakan diukur dari niat yang
terkandung dalam tindakan tersebut. Jadi, setiap anak akan berusaha untuk dapat
menyenangkan orang lain.
- Law and Order
Orientation
Sedangkan
pada tahap ini, pandangan anak selalu mengarah pada otoritas, pemenuhan
aturan-aturan, dan juga upaya untuk memelihara tertib sosial. Tindakan bermoral
dianggap sebagai tindakan yang mengarah pada pemenuhan kewajiban, penghormatan
terhadap suatu otoritas, dan pemeliharaan tertib sosial yang diakui sebagai
satu-satunya tertib sosial yang ada.
3.
Postconventional Morality or Principled
Postconventional Morality or Principled merupakan
tingkat ketiga dalam tahap perkembangan menurut Lawrence Kohlberg.
Pada tingkat ini, terdapat usaha dalam diri anak untuk menentukan nilai-nilai
dan prinsip-prinsip moral yang memiliki validitas yang diwujudkan tanpa harus
mengaitkan dengan otoritas kelompok maupun individu dan terlepas dari hubungan
seseorang dengan kelompok. Pada tingkat ketiga ini, di dalamnya mencakup dua
tahap perkembangan moral, yaitu:
- Social-Contract,
Legalistic Orientation
Merupakan
tahap kematangan moral yang cukup tinggi. Pada tahap ini tindakan yang dianggap
bermoral merupakan tindakan-tindakan yang mampu merefleksikan hak-hak individu
dan memenuhi ukuran-ukuran yang telah diuji secara kritis dan telah disepakati
oleh masyarakat luas. Sehingga seseorang yang berada pada tahap ini menyadari
perbedaan individu dan pendapat. Tahap ini juga dianggap sebagai tahap yang
memungkinkan tercapainya musyawarah mufakat. Tahap ini sangat memungkinkan
seseorang melihat benar dan salah sebagai suatu hal yang berkaitan dengan
nilai-nilai dan pendapat pribadi seseorang. Hukum atau aturan juga dapat
dirubah jika dipandang hal tersebut lebih baik
bagi masyarakat.
- Orientation
of Universal Ethical Principles
Dalam
tahap ini, moral dipandang benar sehingga tidak harus dibatasi oleh hukum atau
aturan dari kelompok sosial atau masyarakat, tetapi lebih dibatasi oleh
kesadaran manusia dengan dilandasi prinsip-prinsip etis. Prinsip-prinsip
tersebut dianggap jauh lebih baik, lebih
luas dan abstrak dan bisa mencakup prinsip-prinsip umum seperti keadilan,
persamaan HAM, dan sebagainya.
2.
Apa yang menentukan tingkatan intensitas masalah etika?
Ada 4 tingkatan intensitas mengenai etika,
yaitu :
- Etika atau moral pribadi yaitu
yang memberikan teguran tentang baik atau buruk, yang sangat tergantung
kepada beberapa faktor antara lain pengaruh orang tua, keyakinan agama,
budaya, adat istiadat, dan pengalaman masa lalu.
- Etika profesi, yaitu serangkaian norma atau aturan yang
menuntun perilaku kalangan profesi tertentu.
- Etika organisasi yaitu
serangkaian aturan dan norma yang bersifat formal dan tidak formal yang
menuntun perilaku dan tindakan anggota organisasi yang bersangkutan.
- Etika sosial, yaitu norma-norma
yang menuntun perilaku dan tindakan anggota masyarakat agar keutuhan
kelompok dan anggota masyarakat selalu terjaga atau terpelihara.
3.
Jelaskan jenis-jenis penyimpangan ditempat kerja!
Penyimpangan
ditempat kerja adalah perilaku tidak etis yang melanggar norma-norma organisasi
mengenai benar atau salah. Terdapat 4 jenis penyimpangan di tempat kerja, yaitu
:
- Penyimpangan
Produksi
Merupaka
perilaku tidak etis dengan merusak mutu dan jumlah hasil produksi. Misalnya :
pulang lebih awal, beristirahat lebih lama, sengaja bekerja lamban, sengaja
membuang-buang sumber daya.
- Penyimpangan
Hak Milik
Merupakan
perilaku tidak etis terhadap harta milik perusahaan. Misalnya : menyabot,
mencuri atau merusak peralatan, mengenakan tarif jasa yang lebih tinggi dan
mengambil kelebihannya, menipu jumlah jam kerja, mencuri dari perusahaan lain.
- Penyimpangan
Politik
Menggunakan
pengaruh seseorang untuk merugikan orang lain dalam perusahaan. Misalnya :
mengambil keputusan berdasarkan pilih kasih dan bukan kinerja, menyebarkn kabr
burung tentang rekan kerja, menuduh orang lain atas kesalahan yang tidak
dibuat.
- Penyerangan
Pribadi
Merupakan
sikap bermusuhan atau perilaku menyerang terhadap orang lain. Misalnya :
pelecehan seksual, perkataan kasar, mencuri dari rekan kerja, mengancam rekan
kerja secara pribadi.

