Kisah Sukses Hendy Setiono
Anda pasti tau kan Kebab Turki??
Mungkin anda salah sati pelanggannya atau salah satu orang yang menyukai kebab tersebut seperti saya.. hehehe
Tapi apakah anda tahu siapa pemiliknya?
Kalau anda berfikir yg mendirikannya seorang bapak-bapak (hehe maaf) anda SALAH BESAR..
Karena pendiri sekaligus pemilik Kebab Turki adalah seorang pria berusia 28 tahun bernama Hendy Setiono. Ia adalah pengusaha muda, pendiri, dan presiden direktur PT Baba Rafi Indonesia. Bisnis makanan kebab yang ia geluti mengantarnya meraih sukses gemilang. Dan jika sekarang makanan kebab tidak terlalu asing di telinga orang Indonesia, barangkali hal itu tidak lepas dari usaha Hendy Setiono yang sejak tahun 2003 lalu mempopulerkan makanan khas Timur Tengah itu di tanah air. Saat awal memulai usahanya ia masih berumur 20 tahun.
Hendy Setiono, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 itu adalah sosok pengusaha muda yang cukup fenomenal. Dialah Pemilik usaha waralaba “Kebab Turki Baba Rafi”. Memulai usaha pada tahun 2003, kini beliau memiliki lebih dari 750 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di Indonesia. Dan bukan hanya itu. Bahkan usahanya kini telah merambah negeri jiran Malaysia. Sebuah perusahaan dengan bendera Baba Rafi Malaysia Sdn. Bhd. telah berdiri di sana.Kiprah Hendy menggeluti bisnis fast food ala Timur Tengah ini bermula ketika Hendy menyambangi sang ayah, yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Kedai kebab di kota itu begitu menjamur, layaknya pedagang bakso di sini. Selama di sana, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat.
Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Lidahnya terkesan dengan kelezatan kebab. Saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Story
Jika sekarang makanan kebab tidak terlalu asing di telinga orang Indonesia, barangkali hal itu tidak lepas dari usaha Hendy Setiono yang sejak tahun 2003 lalu mempopulerkan makanan khas Timur Tengah itu di tanah air.Hendy Setiono, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 itu adalah sosok pengusaha muda yang cukup fenomenal. Dialah Pemilik usaha waralaba “Kebab Turki Baba Rafi”. Memulai usaha pada tahun 2003, kini beliau memiliki lebih dari 750 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di Indonesia. Dan bukan hanya itu. Bahkan usahanya kini telah merambah negeri jiran Malaysia. Sebuah perusahaan dengan bendera Baba Rafi Malaysia Sdn. Bhd. telah berdiri di sana.
Kiprah Hendy menggeluti bisnis fast food ala Timur Tengah ini bermula ketika Hendy menyambangi sang ayah, yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Kedai kebab di kota itu begitu menjamur, layaknya pedagang bakso di sini. Selama di sana, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat.
Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Lidahnya terkesan dengan kelezatan kebab. Saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Kembali dari Qatar, Hendy terdorong menjajal peruntungan. Dia ingin berjualan kebab di Surabaya. Namun, dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia susun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
Mengingat kebab asli Timur Tengah berukuran besar, mereka berusaha untuk memodifikasi agar lebih familier dengan orang Indonesia. Juga soal rasa. Rasa kapulaga dan cengkeh dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatannya rasanya tidak terlalu.
Dengan modal 4 juta rupiah , uang pinjaman dari teman dekat dan kerabat, Hendy memulai usaha. Agar menarik, produknya diberi nama “Kebab Turki Baba Rafi”. Nama Rafi sendiri diambil dari nama anak sulungnya bernama Rafi Darmawan. Adapun Baba berarti ayah dalam bahasa Arab, sehingga Baba Rafi berarti Ayahnya Rafi.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Dengan bantuan satu orang karyawan, pria yang gemar naik sepeda ini mulai merintis jalan. Gerobak dorong warna kuning dibuatnya sendiri. Dia mangkal di daerah Nginden Semolo, Surabaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
ak mau setengah hati dengan usahanya itu, Hendy nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Orang tuanya, Bambang Sudiono dan Endah Setijowati, kalang-kabut. Mereka menentang keputusan sulung dari dua bersaudara itu. Hendy bergeming. Keputusannya sudah bulat.
Rupanya, berdagang kebab itu sulit. Tak seindah impian. Baru seminggu berjualan, karyawannya yang cuma seorang sakit dan tidak dapat bekerja. Terpaksa Hendy menjajakan sendiri dagangannya. Nahas, saat itu hujan deras. Dia cuma bisa mendapatkan uang Rp 30 ribu. Padahal modalnya Rp 50 ribu.
Apes tak cuma sekali. Pernah suatu ketika uang hasil dagangan yang tak seberapa raib dibawa karyawan pengganti. Namun, arek Suroboyo ini pantang menyerah. Jatuh-bangun bersama Nilamsari, sang istri, terus dilakoni. Dagang roti kebab jalan terus.
Kesabaran dan kerja keras Hendy mulai menampakkan titik terang. Lambat-laun dagangannya mulai menggaet pelanggan. Kebab Turki Baba Rafi semakin dikenal di Kota Pahlawan. Omzetnya terus menanjak, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.
Story
Jika sekarang makanan kebab tidak terlalu asing di telinga orang Indonesia, barangkali hal itu tidak lepas dari usaha Hendy Setiono yang sejak tahun 2003 lalu mempopulerkan makanan khas Timur Tengah itu di tanah air.Hendy Setiono, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 itu adalah sosok pengusaha muda yang cukup fenomenal. Dialah Pemilik usaha waralaba “Kebab Turki Baba Rafi”. Memulai usaha pada tahun 2003, kini beliau memiliki lebih dari 750 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di Indonesia. Dan bukan hanya itu. Bahkan usahanya kini telah merambah negeri jiran Malaysia. Sebuah perusahaan dengan bendera Baba Rafi Malaysia Sdn. Bhd. telah berdiri di sana.
Kiprah Hendy menggeluti bisnis fast food ala Timur Tengah ini bermula ketika Hendy menyambangi sang ayah, yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Kedai kebab di kota itu begitu menjamur, layaknya pedagang bakso di sini. Selama di sana, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat.
Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Lidahnya terkesan dengan kelezatan kebab. Saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Kembali dari Qatar, Hendy terdorong menjajal peruntungan. Dia ingin berjualan kebab di Surabaya. Namun, dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia susun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
Mengingat kebab asli Timur Tengah berukuran besar, mereka berusaha untuk memodifikasi agar lebih familier dengan orang Indonesia. Juga soal rasa. Rasa kapulaga dan cengkeh dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatannya rasanya tidak terlalu.
Dengan modal 4 juta rupiah , uang pinjaman dari teman dekat dan kerabat, Hendy memulai usaha. Agar menarik, produknya diberi nama “Kebab Turki Baba Rafi”. Nama Rafi sendiri diambil dari nama anak sulungnya bernama Rafi Darmawan. Adapun Baba berarti ayah dalam bahasa Arab, sehingga Baba Rafi berarti Ayahnya Rafi.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Dengan bantuan satu orang karyawan, pria yang gemar naik sepeda ini mulai merintis jalan. Gerobak dorong warna kuning dibuatnya sendiri. Dia mangkal di daerah Nginden Semolo, Surabaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Tak mau setengah hati dengan usahanya itu, Hendy nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Orang tuanya, Bambang Sudiono dan Endah Setijowati, kalang-kabut. Mereka menentang keputusan sulung dari dua bersaudara itu. Hendy bergeming. Keputusannya sudah bulat.
Rupanya, berdagang kebab itu sulit. Tak seindah impian. Baru seminggu berjualan, karyawannya yang cuma seorang sakit dan tidak dapat bekerja. Terpaksa Hendy menjajakan sendiri dagangannya. Nahas, saat itu hujan deras. Dia cuma bisa mendapatkan uang Rp 30 ribu. Padahal modalnya Rp 50 ribu.
Apes tak cuma sekali. Pernah suatu ketika uang hasil dagangan yang tak seberapa raib dibawa karyawan pengganti. Namun, arek Suroboyo ini pantang menyerah. Jatuh-bangun bersama Nilamsari, sang istri, terus dilakoni. Dagang roti kebab jalan terus.
Kesabaran dan kerja keras Hendy mulai menampakkan titik terang. Lambat-laun dagangannya mulai menggaet pelanggan. Kebab Turki Baba Rafi semakin dikenal di Kota Pahlawan. Omzetnya terus menanjak, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.
Berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, Hendy melompat ke jalur cepat. Pada 2004, Kebab Turki Baba Rafi dikembangkan dalam bentuk waralaba. Startegi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar. Hanya dalam kurun empat tahun, 100 gerai Kebab Turki Baba Rafi sudah tersebar di 16 kota di Indonesia.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada 2008 gerai kebab telah mencapai 325 di 50 kota. Total jumlah karyawan Baba Rafi ada 700 orang. Omzetnya melambung menjadi Rp 4 miliar per bulan.
Story
Jika sekarang makanan kebab tidak terlalu asing di telinga orang Indonesia, barangkali hal itu tidak lepas dari usaha Hendy Setiono yang sejak tahun 2003 lalu mempopulerkan makanan khas Timur Tengah itu di tanah air.
Hendy Setiono, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 itu adalah sosok pengusaha muda yang cukup fenomenal. Dialah Pemilik usaha waralaba “Kebab Turki Baba Rafi”. Memulai usaha pada tahun 2003, kini beliau memiliki lebih dari 750 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di Indonesia. Dan bukan hanya itu. Bahkan usahanya kini telah merambah negeri jiran Malaysia. Sebuah perusahaan dengan bendera Baba Rafi Malaysia Sdn. Bhd. telah berdiri di sana.
Kiprah Hendy menggeluti bisnis fast food ala Timur Tengah ini bermula ketika Hendy menyambangi sang ayah, yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Kedai kebab di kota itu begitu menjamur, layaknya pedagang bakso di sini. Selama di sana, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat.
Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Lidahnya terkesan dengan kelezatan kebab. Saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Kembali dari Qatar, Hendy terdorong menjajal peruntungan. Dia ingin berjualan kebab di Surabaya. Namun, dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia susun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
Mengingat kebab asli Timur Tengah berukuran besar, mereka berusaha untuk memodifikasi agar lebih familier dengan orang Indonesia. Juga soal rasa. Rasa kapulaga dan cengkeh dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatannya rasanya tidak terlalu.
Dengan modal 4 juta rupiah , uang pinjaman dari teman dekat dan kerabat, Hendy memulai usaha. Agar menarik, produknya diberi nama “Kebab Turki Baba Rafi”. Nama Rafi sendiri diambil dari nama anak sulungnya bernama Rafi Darmawan. Adapun Baba berarti ayah dalam bahasa Arab, sehingga Baba Rafi berarti Ayahnya Rafi.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Dengan bantuan satu orang karyawan, pria yang gemar naik sepeda ini mulai merintis jalan. Gerobak dorong warna kuning dibuatnya sendiri. Dia mangkal di daerah Nginden Semolo, Surabaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Tak mau setengah hati dengan usahanya itu, Hendy nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Orang tuanya, Bambang Sudiono dan Endah Setijowati, kalang-kabut. Mereka menentang keputusan sulung dari dua bersaudara itu. Hendy bergeming. Keputusannya sudah bulat.
Rupanya, berdagang kebab itu sulit. Tak seindah impian. Baru seminggu berjualan, karyawannya yang cuma seorang sakit dan tidak dapat bekerja. Terpaksa Hendy menjajakan sendiri dagangannya. Nahas, saat itu hujan deras. Dia cuma bisa mendapatkan uang Rp 30 ribu. Padahal modalnya Rp 50 ribu.
Apes tak cuma sekali. Pernah suatu ketika uang hasil dagangan yang tak seberapa raib dibawa karyawan pengganti. Namun, arek Suroboyo ini pantang menyerah. Jatuh-bangun bersama Nilamsari, sang istri, terus dilakoni. Dagang roti kebab jalan terus.
Kesabaran dan kerja keras Hendy mulai menampakkan titik terang. Lambat-laun dagangannya mulai menggaet pelanggan. Kebab Turki Baba Rafi semakin dikenal di Kota Pahlawan. Omzetnya terus menanjak, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.
Berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, Hendy melompat ke jalur cepat. Pada 2004, Kebab Turki Baba Rafi dikembangkan dalam bentuk waralaba. Startegi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar. Hanya dalam kurun empat tahun, 100 gerai Kebab Turki Baba Rafi sudah tersebar di 16 kota di Indonesia.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada 2008 gerai kebab telah mencapai 325 di 50 kota. Total jumlah karyawan Baba Rafi ada 700 orang. Omzetnya melambung menjadi Rp 4 miliar per bulan.
Sukses Hendy membangun usaha dari kecil hingga menjadi besar telah diakui berbagai kalangan. Majalah Tempo pada 2006, misalnya, memilih Hendy sebagai satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Majalah Business Week International juga menobatkan Hendy sebagai “Asia’s Best Entrepreneur Under 25″. Tahun 2007, Hendy menyabet gelar “Terbaik I Wirausaha Muda Mandiri 2007″ dalam perhelatan yang digelar Bank Mandiri.
Apa prinsip Hendy dalam berbisnis? Hendy punya moto LETAM, ini kebalikan dari METAL.
L – Lihat peluang yang ada. E – Evaluasi peluang itu. T – Tirukan cara yang mungkin dapat diadopsi. A – Amati caranya dan lakukan. M – Modifikasi cara yang telah dipilih itu.
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah sukses tersebut??
>>Jangan pernah menyerah bila kita mengalami kegagalan dalam usaha atau bisnis. Gagal itu biasa.. dan kegagalan merupakan awal kesuksesan :)
So, DON'T GIVE UP :D
>>Membuka bisnis tidak terhalang usia. Justru di usia muda ini merupakan saatnya kita mengukir prestasi maupun kesuksesan.
>>Kita harus sabar dalam menjalankan usaha. Karena sukses itu tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua itu butuh proses!
Kesuksesan dapat kita raih dengan usaha keras, pengorbanan, komitmen, dan doa tentunya
>>Berdoa juga merupakan salah satu penentu kesuksesan. Walaupun kita sudah berusaha dengan keras tapi tidak berdoa pada Tuhan, sama aja bohong itu mah!
Doa dan usaha itu harus seimbang. Sama seperti rumus berikut:
Doa + Usaha = SUKSES
Insya allah kita akan menjadi orang sukses kalau kita mau usaha dan berdoa.. Amin ya Allah :)
Hendy Setiono, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983 itu adalah sosok pengusaha muda yang cukup fenomenal. Dialah Pemilik usaha waralaba “Kebab Turki Baba Rafi”. Memulai usaha pada tahun 2003, kini beliau memiliki lebih dari 750 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di Indonesia. Dan bukan hanya itu. Bahkan usahanya kini telah merambah negeri jiran Malaysia. Sebuah perusahaan dengan bendera Baba Rafi Malaysia Sdn. Bhd. telah berdiri di sana.
Kiprah Hendy menggeluti bisnis fast food ala Timur Tengah ini bermula ketika Hendy menyambangi sang ayah, yang bekerja di perusahaan minyak di Qatar. Kedai kebab di kota itu begitu menjamur, layaknya pedagang bakso di sini. Selama di sana, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat.
Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. Lidahnya terkesan dengan kelezatan kebab. Saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timur Tengah yang menyebar di berbagai kota.
Kembali dari Qatar, Hendy terdorong menjajal peruntungan. Dia ingin berjualan kebab di Surabaya. Namun, dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia susun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
Mengingat kebab asli Timur Tengah berukuran besar, mereka berusaha untuk memodifikasi agar lebih familier dengan orang Indonesia. Juga soal rasa. Rasa kapulaga dan cengkeh dibuat sedemikian rupa sehingga kekuatannya rasanya tidak terlalu.
Dengan modal 4 juta rupiah , uang pinjaman dari teman dekat dan kerabat, Hendy memulai usaha. Agar menarik, produknya diberi nama “Kebab Turki Baba Rafi”. Nama Rafi sendiri diambil dari nama anak sulungnya bernama Rafi Darmawan. Adapun Baba berarti ayah dalam bahasa Arab, sehingga Baba Rafi berarti Ayahnya Rafi.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Dengan bantuan satu orang karyawan, pria yang gemar naik sepeda ini mulai merintis jalan. Gerobak dorong warna kuning dibuatnya sendiri. Dia mangkal di daerah Nginden Semolo, Surabaya, tak jauh dari tempat tinggalnya.
Tak mau setengah hati dengan usahanya itu, Hendy nekat berhenti kuliah. Padahal sudah empat semester ia lalui di Jurusan Teknik Informatika Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya. Orang tuanya, Bambang Sudiono dan Endah Setijowati, kalang-kabut. Mereka menentang keputusan sulung dari dua bersaudara itu. Hendy bergeming. Keputusannya sudah bulat.
Rupanya, berdagang kebab itu sulit. Tak seindah impian. Baru seminggu berjualan, karyawannya yang cuma seorang sakit dan tidak dapat bekerja. Terpaksa Hendy menjajakan sendiri dagangannya. Nahas, saat itu hujan deras. Dia cuma bisa mendapatkan uang Rp 30 ribu. Padahal modalnya Rp 50 ribu.
Apes tak cuma sekali. Pernah suatu ketika uang hasil dagangan yang tak seberapa raib dibawa karyawan pengganti. Namun, arek Suroboyo ini pantang menyerah. Jatuh-bangun bersama Nilamsari, sang istri, terus dilakoni. Dagang roti kebab jalan terus.
Kesabaran dan kerja keras Hendy mulai menampakkan titik terang. Lambat-laun dagangannya mulai menggaet pelanggan. Kebab Turki Baba Rafi semakin dikenal di Kota Pahlawan. Omzetnya terus menanjak, dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah per bulan.
Berbekal ilmu manajemen dan pemasaran yang ditimba dari berbagai seminar, Hendy melompat ke jalur cepat. Pada 2004, Kebab Turki Baba Rafi dikembangkan dalam bentuk waralaba. Startegi ini berhasil. Bisnis Hendy pun berkibar. Hanya dalam kurun empat tahun, 100 gerai Kebab Turki Baba Rafi sudah tersebar di 16 kota di Indonesia.
Bentuk usaha pun sudah berubah menjadi PT Baba Rafi Indonesia. Pada 2008 gerai kebab telah mencapai 325 di 50 kota. Total jumlah karyawan Baba Rafi ada 700 orang. Omzetnya melambung menjadi Rp 4 miliar per bulan.
Sukses Hendy membangun usaha dari kecil hingga menjadi besar telah diakui berbagai kalangan. Majalah Tempo pada 2006, misalnya, memilih Hendy sebagai satu dari 10 tokoh yang mengubah Indonesia. Majalah Business Week International juga menobatkan Hendy sebagai “Asia’s Best Entrepreneur Under 25″. Tahun 2007, Hendy menyabet gelar “Terbaik I Wirausaha Muda Mandiri 2007″ dalam perhelatan yang digelar Bank Mandiri.
Apa prinsip Hendy dalam berbisnis? Hendy punya moto LETAM, ini kebalikan dari METAL.
L – Lihat peluang yang ada. E – Evaluasi peluang itu. T – Tirukan cara yang mungkin dapat diadopsi. A – Amati caranya dan lakukan. M – Modifikasi cara yang telah dipilih itu.
Hikmah apa yang bisa kita ambil dari kisah sukses tersebut??
>>Jangan pernah menyerah bila kita mengalami kegagalan dalam usaha atau bisnis. Gagal itu biasa.. dan kegagalan merupakan awal kesuksesan :)
So, DON'T GIVE UP :D
>>Membuka bisnis tidak terhalang usia. Justru di usia muda ini merupakan saatnya kita mengukir prestasi maupun kesuksesan.
>>Kita harus sabar dalam menjalankan usaha. Karena sukses itu tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. Semua itu butuh proses!
Kesuksesan dapat kita raih dengan usaha keras, pengorbanan, komitmen, dan doa tentunya
>>Berdoa juga merupakan salah satu penentu kesuksesan. Walaupun kita sudah berusaha dengan keras tapi tidak berdoa pada Tuhan, sama aja bohong itu mah!
Doa dan usaha itu harus seimbang. Sama seperti rumus berikut:
Doa + Usaha = SUKSES
Insya allah kita akan menjadi orang sukses kalau kita mau usaha dan berdoa.. Amin ya Allah :)
No comments:
Post a Comment